Perempuan lebih berpotensi terkena penyakit menyerang sistem tubuh. Satu penyakit itu adalah hipertiroid.

dr Poltak Uli Saragih Sp.PD dari Rumah Sakit Graha Husada menjelaskan, hipertiroid kondisi kelenjar tiroid terlalu aktif memproduksi hormon. Akibatnya, hormon tiroid dalam darah menjadi sangat tinggi, padahal jumlah yang dibutuhkannya sendikit.

Penderita hipertiroid umumnya akan merasakan gejala badan semakin kurus meski sudah makan banyak. Gejala lainnya selalu merasa gelisah, selalu terburu-buru, dada terasa berdebar-debar, tidak tahan terhadap panas, berkeringat dan terkadang mengalami diare. “Biasanya seseorang yang menderita hipertiroid baru datang memeriksakan diri ke dokter setelah mengalami semua yang sudah disebutkan itu gejala itu. Tapi ada juga yang datang dengan gejala lain berupa adanya benjolan dileherny biasa disebut gondok,” terang dr Poltak.

Hasil medis menyatakan pasien menderita hipertiroid, dokter menerapkan tiga langkah pengobatan. Pertama, pemberian obat-obatan. Kedua, obat-obatan itu ternyata tidak mampu mengobati hipertiroid, dokter akan melakukan iodium radioaktif atau lebih banyak dikenal sebagai nuklir. Lebih lanjut disampaikannya, tak menutup kemungkinan hipertiroid dapat kembali kambuh. Kondisi itu terjadi biasanya diobati dengan obat-obatan dan bukan iodium radioaktif atau operasi. Sedangkan penanganan iodium radioaktif tiroid akan dirusak sehingga menjadi kecil, jumlah sel semakin berkurang, dan gondok juga akan semakin kecil. Pengobatan ketiga bisa melalui operasi.

“Biasanya iodium radioaktif dan operasi dilaksanakan jika tiroid terlalu besar sehingga mengganggu saluran makan dan pernafasan. Langkah pengobatan dengan iodium radioaktif juga akan diambil dokter jika hipertiroid terus-terusan kambuh lagi,” jelas dr Poltak. Kendati demikian ia menyatakan, metode medis iodium radioaktif dan operasi ada efek samping. Efek samping berupa munculnya hipotiroid dalam kurun waktu 6 bulan, 1 tahun, atau 2 tahun.

Hipotiroid menurut dr Poltak berbeda dengan hipertiroid. Hipertiroid hormon tiroidnya meningkat, sedangkan hipotiroid justru hormon tiroid rendah. “Jika sudah terkena hipotiroid, mau tidak mau harus mengonsumsi hormon gondok setiap hari seumur hidup. Hal ini selalu disampaikan dokter sebelum iodium radioaktif atau operasi dilakukan,” ujarnya.

Penderita Tidak Rasakan Gejala

Secara umum penyebab hipertiroid dipicu penyakit graves, tumor, ketidakseimbangan hormon (pemasukkan berlebihan dari hormon-hormon tiroid. Pengeluaran abnormal dari TSH/Thyroid Stimulating Hormon). Penyebab lainnya tiroiditis (peradangan kelenjar tiroid), dan pemasukkan yodium berlebihan.

Memiliki hormon tiroid terlalu banyak dapat membuat banyak hal dalam kecepatan tubuh. Anda bisa menurunkan berat badan dengan cepat, memiliki detak jantung yang cepat, berkeringat banyak, atau merasa gugup dan moody.

Pada beberapa kasus, penderitanya tidak merasakan gejala sama sekali dan bahkan baru terdeteksi pada saat melakukan pemeriksaan kesehatan. Meskipun demikian, kita bisa memerhatikan sendiri dan waspada terkena hipertiroid jika merasa kan gejala berikut:

  • Gugup, murung, lemah, atau lelah.
  • Tangan tremor/bergetar, jantung berdetak cepat, atau Anda mungkin memiliki masalah pernapasan.
  • Panas dan berkeringat atau memiliki kulit gatal, merah dan hangat.
  • Buang air besar lebih banyak dari biasanya.
  • Rambut rontok.
  • Turun berat badan meskipun Anda makan sama atau lebih banyak dari biasanya.

Perlu menjadi catatan juga bahwa semua gejala tersebut tidak dirasakan semuanya oleh seseorang. Bisa saja hanya merasakan empat dari enam gejala hipertiroid. Cara paling efektif untuk memastikannya adalah melakukan pemeriksaan ke dokter.

Bagikan :